Studi Visa: Pengeluaran Masyarakat Indonesia Untuk Melakukan Perjalanan ke Luar Negeri Tumbuh Tertinggi di 2025

08/30/2016

Rumah tangga di Indonesia diprediksi akan mengeluarkan rata-rata US$8.214 untuk perjalanan ke mancanegara di tahun 2025

Bepergian sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Laporan Visa bertajuk “Mapping the Future of Global Travel and Tourism in Asia Pacific” yang memprediksi tren perjalanan dan wisata dalam kurun waktu 10 tahun ke depan (2015 hingga 2025), menyebutkan bahwa Indonesia diprediksi akan mengalami pertumbuhan pengeluaran saat bepergian tertinggi se-Asia Pasifik dengan peningkatan sebesar 211%, yang awalnya hanya US$ 5,1 milyar pada tahun 2015 menjadi US$ 16 milyar pada tahun 2025.

Lebih lanjut, laporan tersebut mengidentifikasi sejumlah faktor yang memberikan dampak terhadap perjalanan secara global dan mengungkap angka rata-rata pengeluaran tahunan rumah tangga masyarakat Indonesia saat melakukan perjalanan diprediksi akan meningkat sebesar 47% menjadi US$8.214. Faktor-faktor utama tersebut antara lain adalah meningkatnya jumlah masyarakat kelas menengah, konektivitas internet yang lebih luas, adanya perbaikan infrastruktur transportasi di banyak negara, dan juga populasi usia lansia di dunia yang meningkat.

Ellyana Fuad, President Director PT Visa Worldwide Indonesia mengatakan: “Melakukan perjalanan ke luar negeri akan menjadi sebuah hal yang umum dan mudah dilakukan berkat adanya perubahan demografis yang diikuti dengan perkembangan teknologi. Kedua hal ini membuat perjalanan ke luar negeri menjadi semakin mudah dan terjangkau. Selain itu, keberadaan kartu pembayaran yang memudahkan pembayaran, aman, dan diterima di banyak destinasi di dunia menjadi pilihan utama bagi para pemegang kartu kredit Visa di Indonesia yang melakukan perjalanan rata-rata ke 4,8 negara di 2015.”

Lebih menariknya lagi, laporan Visa juga menemukan bahwa bertambahnya populasi usia lansia di dunia yang memiliki waktu luang lebih banyak merupakan salah satu faktor meningkatnya tren berwisata. Turis lansia cenderung mampu mengeluarkan uang lebih banyak dan lebih menyukai perjalanan wisata yang nyaman dan fokus pada kesehatan daripada menabung. Indonesia mendapatkan peringkat ke-6 di Asia Pasifik dengan pertumbuhan wisatawan berusia di atas 65 tahun sebesar 249%, dan diikuti oleh negara-negara peringkat 5 terbesar lainnya seperti Hong Kong (368%), Filipina (360%), Singapura (305%), Cina (280%), dan Malaysia (266%).

Perkembangan teknologi yang menghubungkan informasi di seluruh dunia juga membuat berwisata menjadi lebih mudah. Rata-rata 100 orang Indonesia memiliki 129 ponsel pada tahun 2015 dan jumlahnya diprediksi akan meningkat menjadi 148 pengguna ponsel pada tahun 2025. Meskipun jumlah pengguna ponsel di Indonesia yang aktif mengakses internet masih sedikit, jumlah ini diprediksi akan meningkat. Jumlah pengguna internet juga akan meningkat pada tahun 2025; rata-rata 18 dari 100 orang Indonesia diprediksi meningkat menjadi 28 dari 100 orang. Konektivitas digital tak hanya meningkatkan spontanitas untuk pergi berwisata, tetapi juga menyediakan berbagai pilihan wisata lebih banyak.

Temuan penting yang terdapat pada laporan ini meliputi:

Munculnya Kelas Wisatawan Baru: Peningkatan pendapatan masyarakat dunia berujung pada kemunculan “kelas orang bepergian/wisatawan” baru. Penelitian kami menemukan bahwa rumah tangga di seluruh dunia yang memiliki rata-rata pendapatan berkisar US$20.000 per tahun merupakan kontributor terbesar dalam 90% pengeluaran internasional orang yang bepergian saat ini. Pada tahun 2025, diprediksi bahwa kira-kira setengah dari seluruh rumah tangga di dunia (945 juta) akan mampu mendapatkan pendapatan dengan jumlah tersebut sehingga keinginan dan pengeluaran untuk bepergian juga akan lebih besar. Hal ini berlaku terutama untuk rumah tangga yang berasal dari negara berkembang.
 


Mansyarakat Lansia Global
: Pada tahun 2025, wisatawan berusia 65 tahun ke atas diprediksi akan menggandakan jumlah perjalanan mereka dengan rata-rata 180 juta perjalanan yang berarti 1 dari 8 perjalanan internasional secara global. Penelitian kami memprediksi bahwa wisatawan lansia akan lebih mampu mengeluarkan uang lebih banyak untuk membiayai wisata yang lebih lama untuk fasilitas yang lebih nyaman dan lebih mahal. Tren seperti pariwisata medis (medical tourism) dengan tujuan kesehatan yang sering diambil oleh para wisatawan lansia saat melakukan perjalanan internasional juga akan menjadi sesuatu yang populer di masa depan.



Peningkatan Konektivitas
: Perpaduan antara globalisasi dan perkembangan teknologi menjadikan informasi lebih mudah untuk di akses. Di masa depan, diprediksi adanya pembangunan lebih dari 3401 bandara yang akan membuka rute perjalanan lebih banyak dan membuka akses destinasi baru untuk wisata. Pada waktu yang sama, pengetahuan masyarakat akan pilihan bepergian meningkat searah dengan kemudahan akses internet dan meningkatnya jumlah perangkat mobile di seluruh dunia. Konektivitas digital tak hanya meningkatkan spontanitas, namun juga memacu munculnya beragam pilihan perjalanan pribadi maupun pariwisata. Ringkasan penelitian beserta data khusus per negara dan per wilayah yang interaktif dapat diakses melalui www.visa.com

Metodologi
Visa memperkirakan jumlah rumah tangga yang melakukan perjalanan ke luar negeri dengan membandingkan jumlah pemegang kartu Visa yang pernah melakukan transaksi langsung (face-to-face) di luar negeri dengan jumlah seluruh pemegang kartu aktif di negara tersebut. Data kemudian disesuaikan sebagai representasi populasi negara tanpa memandang jenis metode pembayaran yang dilakukan oleh satu negara. Kecenderungan ini kemudian digunakan sebagai input dalam perhitungan perkiraan yang dikembangkan oleh Oxford Economics untuk penelitian ini.

Oxford Economics used survey data on the age and income of the international travelers from a sample of 10 countries to calculate international travel frequencies and share of travel by age bracket and income class. The results were extrapolated to a broader set of countries based on their classification as developed or emerging markets and key variables such as GDP per capita and total international arrivals per capita.

Oxford Economics menggunakan survey data usia dan pendapatan mereka yang melakukan perjalanan ke mancanegara dari 10 negara untuk menghitung frekuensi perjalanan dan jumlah mereka yang melakukan perjalanan berdasarkan usia dan pendapatan. Hasilnya kemudian diekstrapolasikan ke sejumlah negara berdasarkan klasifikasi sebagai negara berkembang atau negara maju, dan juga variabel utama seperti PDB per kapita dan jumlah total kedatangan internasional per kapita.

Perkiraan travel share kemudian dibandingkan dengan distribusi pendapatan rumah tangga dan persebaran usia di setiap negara untuk mengembangkan hubungan historis dalam rangka memproyeksikan jumlah travel share dan travel volume berdasarkan jumlah pendapatan dan kelompok usia dari tahun 2005 hingga 2025.

 

1 Tourism Economics analysis of CAPA data

 

Tentang Visa Inc.

Visa adalah perusahaan teknologi pembayaran global yang menghubungkan konsumen, bisnis, bank dan pemerintahan di lebih dari 200 negara dan teritori untuk menyediakan pembayaran elektronik yang cepat, aman dan terpercaya. Visa mengoperasikan salah satu jaringan pemrosesan data tercanggih di dunia – Visa Net – yang mampu menangani lebih dari 65.000 pesan transaksi per detik dengan perlindungan dari penipuan bagi konsumen dan pembayaran terjamin untuk merchant. Visa bukan bank dan Visa tidak menerbitkan kartu, menaikkan batas kredit atau menetapkan harga dan biaya bagi konsumen. Walaupun demikian, inovasi Visa memungkinkan bank-bank rekanannya untuk menawarkan lebih banyak pilihan kepada konsumen: membayar saat ini juga dengan kartu debit, membayar di muka dengan kartu prabayar, atau membayar di kemudian hari dengan produk kartu kredit. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi usa.visa.com/about-visa, visacorporate tumblr.com, www.visa.co.id dan @VisaNews.

Visa Performance Solutions adalah tim global yang terdiri pakar industri dalam bidang strategi, pemasaran, operasional, risiko, dan ekonomi yang telah memiliki pengalaman panjang dalam industri pembayaran. Dengan menganalisa data jaringan pembayaran dan sebagian besar data transaksi pembelian di seluruh dunia, tim kami mampu memberikan solusi dalam menjalankan kegiatan usaha berdasarkan strategi-strategi yang telah teruji dan juga memberikan pemahaman yang didukung data yang dapat menunjang target bisnis.